Saturday, November 10, 2012

[SONGFIC] YUNJAE-TELEPHONE


Seorang namja tampan dengan perawakan tegap tengah berjalan memasuki apartemen tempatnya tinggal. Setelah memasukkan kode keamanan pintu apartemennya, wajah tampannya yang semula dingin tanpa ekspresi kini berubah menjadi keruh dan lesu setelah memasuki apartemennya yang mewah namun terlihat kosong dan hampa. Mata musangnya yang sedari tadi di perjalanan menuju apartemen selalu waspada kini meredup. Pria itu menghela napasnya berat, tangan besarnya mengusap wajahnya kasar. Segera saja dia memasuki salah satu kamar dari empat kamar yang berada di sana.

Dia segera masuk kamar mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya setelah seharian penuh ini penat karena pekerjaan. Meregangkan otot-otot wajahnya yang terasa kaku karena dipaksa untuk terus tersenyum di depan kamera. Ya, hanya di depan kamera dia terlihat hidup dan baik-baik saja. 

15 menit kemudian pria itu keluar dari kamar mandi dan memilih piyama tidurnya. Setelah selesai dia langsung merangkak naik ke atas tempat tidurnya. Dia meraih ponselnya dan memainkannya sebentar. Dia melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dia sedikit ragu untuk menghubungi seseorang melihat jam yang sudah memperingatkannya untuk segera tidur. Tapi, seharian ini dia belum mendengar suara orang yang ingin ditelponnya ini. Dengan menahan napas dia mendial angka 9. 

Kimi wa doko ni itte? Dare to doko ni itte? Donna fuku o kitte?..

Setelah lagu Stand By You milik Tohoshinki mengalun cukup lama tanpa ada tanda sang pemilik nomor mengangkat.’ Pria itu mendesah kecewa, apa mungkin dia sudah tidur? Yah, memang sudah larut sekali sih. Lebih baik besok saja aku menelepon Boo’

“yeoboseyo”pria itu mengurungkan niat memutus sambungan telepon ketika mendengar suara yang dirindukannya menjawab teleponnya. Meski suara orang itu sekarang terdengar serak, khas bangun tidur.

“Apa aku membangunkanmu??”tanya pria itu lembut.

“Eung??”hanya respon itulah yang diberikan orang diseberang, tapi beberapa detik kemudian “Yunnieee!!!”pekik orang itu keras.

“Ne. Mianhae meneleponmu selarut ini Joongie”

“Gwenchana, Yunnie~ Kau baru pulang ya??”

“Ne. Seharian ini aku sibuk sekali jadi tak sempat mengabarimu sama sekali Boo. Mianheyo”
Tak ada respon sama sekali.

“Jaejoongie..”panggil Yunho lembut dan isakan lirih terdengar.

“sssttt uljima. Kau tahu kan aku paling benci melihatmu menangis?”

“Tapi kan kau sekarang tak bisa melihatku menangis!!”

“Tapi aku bisa mendengarnya Jae. Jebal berhentilah menangis. Kau membuatku merasa tak berguna karena tak bisa disampingmu saat ini”Yunho terlihat semakin lelah.

“Mereka masih suka menyiksamu ya??”Jaejoong berbicara di tengah isakannya.

Yunho menghela napas sekali lagi.

“Tidak seperti itu Jae, ini resiko sebagai artis kan??”

“Tapi kau pulang jam segini hampir setiap hari”

“Jae tidak..”

“Jangan membela mereka Yunnie! Aku tahu karena aku pernah bekerja untuk mereka juga. Jangan bilang mereka telah berubah, karena aku tak melihat itu dari kondisimu saat ini”suara Jaejoong sedikit meninggi meski isakan masih terdengar.

“....”

“Yun, sampai kapan kami harus menunggu? Kenapa tidak pergi saja sekarang?? Aku tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti ini..”

“Gwenchana. Aku bisa menahan ini semua Boo. Bersabarlah sampai aku mendapatkan apa yang menjadi hak kita. Setelah itu kami akan menyusul kalian”

“Tapi sampai kapan?? Hmm??”

“Kau percaya padaku kan??”

Tak ada sahutan dari Jaejoong.

“Jaejoongie...”

“Tentu saja. Aku selalu percaya pada leader sshi”

“Gomawo”

Hening.

“Bogoshippo Yunni-ya”

“Nado bogoshippo Joongi-ya”..... “Joongie-ya. aku berencana mengajakmu berlibur ke Australia. Apa kau mau??”

“Nde?? Kau serius?? Tentu saja aku mau! Tapi jadwalmu Yun”

“Aku akan menyesuaikan jadwal kita berdua. Nanti kirim email tentang jadwalmu ya??”

“NE!!”

“Sudah malam, tidurlah Joongie. Saranghae”

“Nado Saranghae. Jaljayo Yunnie~”

*END*

2 comments: