Seorang namja tampan dengan
perawakan tegap tengah berjalan memasuki apartemen tempatnya tinggal. Setelah
memasukkan kode keamanan pintu apartemennya, wajah tampannya yang semula dingin
tanpa ekspresi kini berubah menjadi keruh dan lesu setelah memasuki apartemennya
yang mewah namun terlihat kosong dan hampa. Mata musangnya yang sedari tadi di
perjalanan menuju apartemen selalu waspada kini meredup. Pria itu menghela
napasnya berat, tangan besarnya mengusap wajahnya kasar. Segera saja dia
memasuki salah satu kamar dari empat kamar yang berada di sana.
Dia segera masuk kamar mandi untuk
menyegarkan badan dan pikirannya setelah seharian penuh ini penat karena
pekerjaan. Meregangkan otot-otot wajahnya yang terasa kaku karena dipaksa untuk
terus tersenyum di depan kamera. Ya, hanya di depan kamera dia terlihat hidup
dan baik-baik saja.
15 menit kemudian pria itu keluar
dari kamar mandi dan memilih piyama tidurnya. Setelah selesai dia langsung
merangkak naik ke atas tempat tidurnya. Dia meraih ponselnya dan memainkannya
sebentar. Dia melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dia sedikit ragu
untuk menghubungi seseorang melihat jam yang sudah memperingatkannya untuk
segera tidur. Tapi, seharian ini dia belum mendengar suara orang yang ingin
ditelponnya ini. Dengan menahan napas dia mendial angka 9.
Kimi wa doko ni itte? Dare to doko ni itte? Donna fuku o kitte?..
Setelah lagu Stand By You milik
Tohoshinki mengalun cukup lama tanpa ada tanda sang pemilik nomor mengangkat.’
Pria itu mendesah kecewa, apa mungkin dia sudah tidur? Yah, memang sudah larut
sekali sih. Lebih baik besok saja aku menelepon Boo’
“yeoboseyo”pria itu mengurungkan
niat memutus sambungan telepon ketika mendengar suara yang dirindukannya
menjawab teleponnya. Meski suara orang itu sekarang terdengar serak, khas
bangun tidur.
“Apa aku membangunkanmu??”tanya
pria itu lembut.
“Eung??”hanya respon itulah yang
diberikan orang diseberang, tapi beberapa detik kemudian “Yunnieee!!!”pekik
orang itu keras.
“Ne. Mianhae meneleponmu selarut
ini Joongie”
“Gwenchana, Yunnie~ Kau baru
pulang ya??”
“Ne. Seharian ini aku sibuk sekali
jadi tak sempat mengabarimu sama sekali Boo. Mianheyo”
Tak ada respon sama sekali.
“Jaejoongie..”panggil Yunho lembut
dan isakan lirih terdengar.
“sssttt uljima. Kau tahu kan aku
paling benci melihatmu menangis?”
“Tapi kan kau sekarang tak bisa
melihatku menangis!!”
“Tapi aku bisa mendengarnya Jae.
Jebal berhentilah menangis. Kau membuatku merasa tak berguna karena tak bisa
disampingmu saat ini”Yunho terlihat semakin lelah.
“Mereka masih suka menyiksamu
ya??”Jaejoong berbicara di tengah isakannya.
Yunho menghela napas sekali lagi.
“Tidak seperti itu Jae, ini resiko
sebagai artis kan??”
“Tapi kau pulang jam segini hampir
setiap hari”
“Jae tidak..”
“Jangan membela mereka Yunnie! Aku
tahu karena aku pernah bekerja untuk mereka juga. Jangan bilang mereka telah
berubah, karena aku tak melihat itu dari kondisimu saat ini”suara Jaejoong
sedikit meninggi meski isakan masih terdengar.
“....”
“Yun, sampai kapan kami harus menunggu?
Kenapa tidak pergi saja sekarang?? Aku tidak bisa melihatmu diperlakukan
seperti ini..”
“Gwenchana. Aku bisa menahan ini
semua Boo. Bersabarlah sampai aku mendapatkan apa yang menjadi hak kita.
Setelah itu kami akan menyusul kalian”
“Tapi sampai kapan?? Hmm??”
“Kau percaya padaku kan??”
Tak ada sahutan dari Jaejoong.
“Jaejoongie...”
“Tentu saja. Aku selalu percaya
pada leader sshi”
“Gomawo”
Hening.
“Bogoshippo Yunni-ya”
“Nado bogoshippo Joongi-ya”.....
“Joongie-ya. aku berencana mengajakmu berlibur ke Australia. Apa kau mau??”
“Nde?? Kau serius?? Tentu saja aku
mau! Tapi jadwalmu Yun”
“Aku akan menyesuaikan jadwal kita
berdua. Nanti kirim email tentang jadwalmu ya??”
“NE!!”
“Sudah malam, tidurlah Joongie.
Saranghae”
“Nado Saranghae. Jaljayo Yunnie~”
*END*
.pa yg hrus q katakan??
ReplyDeletedih komenmu bermutu sekali u,u
Delete